Seputar Penulisan & Penerbitan

Banyu (E)mas


KAMSO termenung lesu di beranda rumah.  Baru saja istrinya melapor, kalau persediaan beras telah habis.  Tak lama berselang, kedua anaknya yang masih SD merengek minta dibelikan seragam sekolah baru.  Mereka menunjukkan sepasang seragam yang telah jauh memudar dari warna aslinya, plus lubang sobek pada beberapa bagiannya.  Belum selesai terenyuh melihat kondisi seragam sekolah anaknya, datang tetangga hendak menagih utang yang telah jatuh tempo.  Rangkaian peristiwa semacam itu seakan setia memayungi kehidupan Kamso.  Kerja kerasnya sebagai buruh serabutan, hingga kini belum mampu melepaskannya dari belitan kesulitan ekonomi.  Penghasilan yang ia dapat terasa berkejaran jauh dengan kebutuhan keluarga yang harus ia penuhi.  Egonya sebagai lelaki, kepala rumah tangga yang mestinya dapat mencukupi kebutuhan keluarga, terusik.

Kamso menempati rumah peninggalan orang tuanya yang telah lama meninggal.  Selain istri dan kedua anaknya, ada Kamsi, adik lelaki yang merupakan saudara tunggalnya yang tinggal bersama di rumah tersebut.  Sama seperti Kamso, sehari-hari Kamsi juga bekerja sebagai buruh serabutan.  Mereka sering bersama-sama menggarap lahan pertanian milik orang lain yang membutuhkan jasa mereka. Keterbatasan mengecap pendidikan membuat mereka seakan terbatasi pula dalam hal pilihan profesi.

“Kita harus melakukan sesuatu untuk mengubah nasib Si,” ujar Kamso pada Kamsi.
“Apa Kakang sudah punya rencana?”   
“Ada. Tapi entah kamu setuju atau tidak dengan rencanaku.”
“Memang apa rencanamu itu Kang? Kalau itu baik dan berguna untuk masa depan kita, aku pasti setuju dan akan mendukung rencanamu Kang,” tegas Kamsi.

Kamso menatap dalam-dalam wajah adiknya.  Ia seakan sedang menakar seberapa kadar penerimaan sang adik bila ia ungkapkan rencananya.  Sejurus kemudian Kamso pun mengungkapkan isi hatinya.

“Aku ingin pergi ke orang pintar di desa sebelah, untuk minta cekelan pelancar rezeki.  Aku dengar si Marto dan Abas usahanya lancar dan jadi kaya-raya setelah datang pada orang pintar itu... “

Mendengar penuturan kakaknya, Kamsi terhenyak.  Ia menarik nafas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk mengatur diri agar tetap tenang.

“Kamu tidak setuju dengan rencanaku?”
 “Istighfar Kang, itu syirik. Terus terang aku tidak setuju dengan cara seperti itu.  Aku pikir masih banyak cara lain yang lebih diridai-Nya…”

Kamso tak melanjutkan percakapan. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali, perlahan mengangkat pinggul dan meninggalkan Kamsi tanpa permisi.  Di dalam kamarnya Kamso melanjutkan renungan. Dadanya masih bergemuruh.  Niatnya untuk sesegera mungkin bebas dari belenggu kemiskinan tak mendapat dukungan dari adik sematawayangnya.
***

Pagi hari Kamso tampak bergegas pergi dengan sepeda onthel yang mungkin merupakan “harta” berharga terakhir yang dimilikinya.  Pertanyaan Kamsi mengapa tidak pergi ke sawah majikan mereka tidak dijawabnya.  Kamsi mencoba bertanya pada Ratmini kakak iparnya, namun tak juga mendapat jawaban yang memuaskan. Seperti ada sesuatu yang mereka rahasiakan pada Kamsi.

Sore harinya Kamso kembali ke rumah dengan wajah sumringah.  Namun sepeda onthel tak lagi menyertainya. 

“Lho, sepedamu kemana Kang? Kenapa pulang jalan kaki?” selidik Kamsi.
“Aku jual untuk bayar utang, “ jawab Kamso sambil lalu.

Kamsi merasakan keganjilan pada perilaku kakaknya.  Apalagi ketika keesokan harinya ia mengajak kakaknya untuk menggarap sawah majikan mereka, Kamso tegas-tegas menolak dengan alasan sudah punya pekerjaan pengganti lain yang lebih baik.
***

“Ratmi, menurut orang pintar dari desa sebelah itu, pemilik cekelan ini akan dikejar rezeki dalam hitungan tiga hari. Hari ini tepat hitungan hari ketiga.  Dan kamu tahu Rat, aku sudah dapat pertanda bahwa kita akan segera dikejar rezeki?”

“Benarkah. Apa pertandanya Kang?”

“Tadi aku mendapat kabar bahwa warga desa Kediri sedang gempar dengan penemuan butiran emas.  Ukurannya sebesar peluru senapan angin dan keluar dari dalam bebatuan di pinggir Sungai Logawa yang mengalir melewati desa mereka. Aku sangat yakin ini merupakan pertanda baik untuk kita.  Besok aku akan kesana untuk mencari sebanyak-banyaknya butiran emas itu.”

Ratmini mengamini setiap ucapan suaminya.  Khayalan Kamso melayang tinggi.  Beroleh kiloan butiran emas yang akan mengubah hidupnya, dari melarat jadi konglomerat berlimpah nikmat dalam waktu singkat.  Pengorbanan menjual sepeda onthel sebagai satu-satunya harta berharga yang tersisa untuk mendapat cekelan ampuh, betul-betul tak akan pernah disesalinya.  Malam itu Kamso dan Ratmini tidur dengan sangat nyenyak.  Bibir mereka menyunggingkan senyum.  Mungkin mereka tengah bermimpi, berbulan madu kembali di Pulau Bali.
***

Pagi hari sebelum berangkat ke Sungai Logawa untuk berburu butiran emas, Kamso menemui Kamsi untuk ikut serta.

“Ikutlah bersamaku ke Sungai Logawa Si.  Kita kumpulkan butiran emas sebanyak-banyaknya.  Ini kesempatan terbaik kita untuk mengubah nasib.”

“Kakang percaya kalau ada butiran emas sungguhan di sana?” 
 “Lho kenapa tidak.  Kalau dicocok-cocokan kata Banyu Mas itu kan bisa berarti air emas. Jadi mungkin saja sungainya memendam emas.”
           
 “Kalau menurutku tidak begitu Kang. Aku lebih senang mengartikan bahwa Banyu atau air itu adalah lambang kesuburan dan Mas adalah lambang kemakmuran.  Kesuburan dan kemakmuran yang bisa kita peroleh setelah melalui kerja keras.  Bukan dari menggantung khayal dan bermalas-malas.”

“Jadi kamu tidak mau ikut aku ke Sungai Logawa?”
“Tidak Kang. Aku harus menggarap sawah majikan yang telah diamanatkan pada kita.”
“Ya sudah terserah kamu lah. Wong dikasih pilihan jalan yang lebih mudah untuk hidup senang kok susah banget.
             
Merasa ucapannya selalu dimentahkan adiknya, akhirnya Kamso berangkat sendiri.  Memulai perburuan butiran emas di Sungai Logawa berbekal cekelan yang sangat diyakininya sebagai pelancar rezeki.

Agaknya informasi tentang ditemukannya butiran emas di Sungai Logawa menyebar begitu cepat dari mulut ke mulut.  Setiba di lokasi Kamso mendapati ratusan orang telah menyesaki Sungai Logawa.  Ada yang berkelompok, ada pula yang sendiri-sendiri. Berbekal peralatan seadanya mereka menggali batu-batu cadas di pinggiran sungai. Mencoba mengais “butiran emas” di sepanjang tujuh puluh meter pinggiran sungai.
             
Kamso pun tak ketinggalan mencari posisi yang paling strategis untuk mulai beraksi.  Tangannya tangkas mengayunkan linggis untuk mulai menggali bebatuan.  Sementara kedua matanya ia buka-buka lebar untuk mengamati setiap jengkal area yang telah ia gali dan kais.  Dan memang, tak berapa lama kemudian ia mendapatkan butiran-butiran bebatuan yang berwarna kuning keemasan.  Kamso senang bukan kepalang.  Satu persatu butiran berwarna kuning keemasan yang ia dapat ia kumpulkan dalam kantong plastik yang sudah ia siapkan.
             
Sejak hari itu, suasana sekitar Sungai Logawa menjadi demikian riuh.  Dari pagi hingga petang orang berbondong-bondong datang mencari peruntungan.  Kamso pun sudah tiga hari tak pernah absen mendatangi Sungai Logawa.  Pagi datang, pulang petang.  Cukup banyak sudah “butiran emas” yang ia kumpulkan.
             
Hingga pada suatu malam Ratmini menghampirinya.
             
“Kang, sudah hampir tiga hari ini tidak ada uang masuk.  Utang kita di warung sudah mulai menumpuk lagi.  Kira-kira kapan butiran emas itu dapat kita jual kang?”
            
 “Sabarlah Ratmi. Besok sepulang dari Sungai Logawa aku akan mencari informasi, dimana tempat menjual “butiran-butiran emas” itu.  Tenanglah. Semua utang akan aku lunasi dan semua yang kita butuhkan akan aku cukupi,” kata Kamso dengan nada sangat optimis.
***
             
Pagi sekali Kamso sudah bersiap berangkat.  Kamsi yang sudah beberapa hari ini didiamkan oleh kakaknya itu, mencoba menyapa lebih dulu.
     
“Kang, kemarin Pak Hamim majikan kita menanyakan kamu, kenapa sudah lebih dari satu minggu tak ikut menggarap sawahnya?”
            
 “Lalu kamu bilang apa pada Pak Hamim?” tanya Kamso.
 “Aku bilang kamu sedang ada pekerjaan lain.”
             
“Bagus itu.  Rasanya sebentar lagi aku memang akan meninggalkan pekerjaan sebagai buruh serabutan selamanya. Aku akan jadi orang kaya, ha…ha..”
             
Kamsi yang makin bingung melihat perilaku kakaknya, mencoba mengingatkan
             
“Jangan terlalu banyak berkhayal kang, nanti sakit bila tak kesampaian.  Mengapa kakang meninggalkan pekerjaan yang sudah jelas-jelas menghasilkan nafkah untuk keluarga kakang, lalu memilih melakukan hal yang belum pasti hasilnya?

”Kata siapa tidak pasti. Kalau kamu tak percaya, lihat saja nanti buktinya. Ha…ha…ha...

Tawa Kamso keras memecah kesunyian pagi.  Kamsi hanya bisa mengelus dada melihat tingkah kakaknya.  Bak seorang yang baru saja menang undian, Kamso meninggalkan rumah sambil bersenandung riang.

 Tiba di Sungai Logawa, Kamso mendapati pemandangan hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya.  Di beberapa tempat terpasang beberapa spanduk pengumuman yang tampaknya dibuat oleh Pemda Banyumas.  Kamso membaca pelan-pelan isi salah satunya:

“TIDAK ADA KANDUNGAN EMAS DI LOGAWA. JANGAN BERLAMA-LAMA MEMBUANG WAKTU DAN TENAGA ANDA PERCUMA DI TEMPAT INI…”
Tak puas membaca, Kamso mencoba bertanya pada salah satu petugas yang ada di tempat itu.  Dari mulut sang petugas meluncur penjelasan bahwa berdasarkan hasil penelitian dari Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Kabupaten Banyumas, butiran kuning yang sempat dikumpulkan oleh warga itu ternyata bukan emas. Itu hanya batu 'pyrite' atau bebatuan yang terdiri dari unsur besi dan belerang. Batuan itu menjadi kuning, karena terus-menerus terendam air di Sungai Logawa.
             
Petugas itu masih melanjutkan penjelasannya, namun  Kamso merasakan sekelilingnya tiba-tiba berputar, meremang… dan gelap.

*****
Catatan:
Dalam bahasa Jawa, barang pegangan (disebut cekelan) berarti benda yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu yang dapat membantu pemiliknya menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidupnya. Barang pegangan disebut juga piandel, yang artinya membuat pemiliknya kendel (berani). Logikanya adalah karena barang pegangan dapat membantu memecahkan permasalahan pemiliknya maka pemilik menjadi lebih percaya diri.  

Cerpen ini telah dibukukan dalam Antologi Cerpen Banyumas "Balada Seorang Lengger"  - Penamas Leutikaprio, 2011. 

Sumber gambar: http://m.tempo.co
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definition List

Popular Posts

Labels

Recent Posts

Pages

Sapardi Djoko Damono - Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Puisi WS Rendra: "Kangen"